LAPORAN
PRAKTIKUM IKHTIOLOGI
MORFOLOGI DAN ANATOMI
DOSEN PENGAMPU
ANGGIT PRIMA
NUGRAHA, M.Si
DISUSUN OLEH
NAMA : NUR
LARAS FITRIYANI
NIM : F1C414001
PROGRAM STUDI
BIOLOGI
FAKULTAS SAINS
DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS
JAMBI
2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Ikan merupakan vertebrata yang memiliki habitat di air, ikan
bernapas menggunkana insang, bergerak menggunakan sirip, bersifat poikiloterm
dan memiliki linnea lateralis. Morfologi ikan dapat dilihat secara jelas dan
langsung serta dapat dibedakan bagian-bagiannya. Di lihat dari morfologinya,
tubuh ikan di bagi menjadi tiga bagian yaitu kepala (caput), badan (truncus)
dan ekor (caudal). Bagian kepala dimulai dari ujung mulut terdepan hingga ujung
penutup insang (operculum) paling belakang. Bentuk tubuh ikan sangat
dipengaruhi oleh system rangka, system otot dan habitat dimana ikan tersebut
hidup, karena beberapa spesies akan mengalami perubahan morfologi maupun
anatomi yang menyesuaikan habitatnya.
Anatomi (berasal dari bahasa Yunani anatomia, darianatemnein, yang
berarti memotong) adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur
dan organisasi dari makhluk hidup. Pengetahuan tentang
anatomi dalam ikan dapat membantu kita dalam mengetahui bagian-bagian apa saja yang
terdapat di dalam tubuh ikan seperti Organ pencernaan, sistem pernafasan,
sistem peredaran darah dan juga kita dapat mengetahui apa-apa saja fungsi organ
yang ada di dalam tubuh ikan (Kordi, 2011).
Berdasarkan
pernyataan tersebut maka di lakukanlah praktikum pengamtan morfologi dan
anatomi ikan, sampel ikan yang digunkan dalam praktikum ini terdiri dari ikan
perairan tawar dan ikan perairan laut. Untuk mengamati system pencernaanya di
gunakanlah ikan karnivora dan ikan herbivora. Ikan-ikan yang digunakan adalah Oreochromis niloticus, Clarias batrachus,
Monopterus albus, Himantura uarnak dan Carcharhinus leucas.
1.2
Tujuan
Praktikum
1.
Mahasiswa mampu mendeskripsikan morfologi dan
antomi ikan Oreochromis niloticus, Clarias batrachus, Monopterus
albus, Himantura
uarnak dan Carcharhinus leucas.
2.
Mahasiswa
mampu menganalisis bentuk sistem pencernaan ikan karnivora dan ominvora.
3.
Mahasiswa
mampu mendeskripsikan jenis adaptasi ikan berdasarkan habitatnya.
BAB II
METODE
2.1
Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilakukannya praktikum ini yaitu pada hari
rabu tanggal 26 Oktober 2016 pukul 07:30 – 10:30 WIB yang bertempat di
Laboratorium Biokimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jambi.
2.2 Alat dan Bahan
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah bak bedah,
alat bedah, penggaris, spuit, dan mikroskop, sedangkan bahan yang di gunakan
adalah Oreochromis
niloticus, Clarias batrachus, Monopterus albus, Himantura uarnak dan Carcharhinus leucas.
2.3 Cara Kerja
·
Sampel ikan di
letakkan pada bak bedah yang telah disiapkan.
·
Lakukan
pembedahan pada masing-masing sampel.
·
Amati organ-organ
dalam sampel
·
Ambil system
pencernaan dari dalam perut ikan
·
Ukur panjang
system pencernaan
·
Ambil insang
setiap sampel
·
Amati perbedaan
insang dari setiap sampel
·
Catat hasil
pengamatan
BAB III
HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1
Hasil
3.1.1
Tabel.1.
Pengukuran panjang usus ikan
Spesies
|
Parameter
Pengukuran
|
Monopterus albus
|
Panjang sistem
pencernaan : 30 cm
Panjang usus
: 24 cm
|
Oreochromis niloticus
|
Panjang usus
: 71,5 cm
|
Clarias batrachus
|
Panjang usus
: 17 cm
|
Himantura uarnak
|
Panjang sistem
pencernaan : 44 cm
|
Carcharhinus leucas
|
Panjang sistem
pencernaan : 21 cm
Panjang usus
: 33 cm
Panjang hati
: 10 cm
|
3.2
Pembahasan
3.2.1
Klasifikasi
Klasifikasi
belut menurut Junariyata (2010)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Synbranchoidae
Famili : Synbranchidae
Genus : Synbranchus
Spesies : Monopterus albus
Klasifikasi
ikan nila menurut Saanin (1984) dalam Suryaningrum, et al. ( 2015)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Osteichtyes
Ordo : Percomorphi
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromis niloticus
Klasifikasi
ikan lele menurut Weber de Beaufort (1965) dalam Suyanto (2008)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Pisces
Ordo : Ostariophysi
Famili : Clariidae
Genus : Clarias
Spesies : Clarias batrachus
Klasifikasi
ikan pari (iucnredlist.org)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Chondrihthyes
Ordo : Rajiformes
Famili : Dasyatidae
Genus : Himantura
Spesies : Himantura uarnak
Klasifikasi
ikan hiu (itis.gov)
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Chondrihthyes
Ordo : Carcharhiniformes
Famili : Carcharhinidae
Genus : Carcharhinus
Spesies : Carcharhinus leucas
3.2.2
Morfologi dan
Anatomi
a.
Belut (Monopterus albus)
Belut memiliki
tubuh yang menyerupai ular, yaitu gilig (silindris) memanjang. Belut tidak
memiliki sirip dada dan sirip punggung. Sirip analnya telah mengalami perubahan
menyerupai lipatan kulit tanpa adanya penyangga jari-jari keras atau leamh.
Sementara sirip dada dan siri punggung hanya berbentuk guratan kulit yang halus, (Taufik dan Cahyo. 2008)
Tubuh belut
tidak bersisik, hanya saja ttubuhnya di lapisi oleh kulit yang licin hampir
menyerupai plastic. Kulit belut berwarna kuning kecoklatan ketika masih muda
dan akan berubaga menajdi warna coklat gelap bila sudah dewasa, (Taufik dan Cahyo. 2008)
Bentuk kepala
belut lebih besar, sedikit lebih tinggi dari pada tubuhnya dan berbebtuk
meruncing kearah moncong mulutnya. Kedua matanya terlihat kecil dan di lindungi
oleh keriputan kulit dibagian atasnya. Mulutnya dilengkapi lipatan kulit yang
sedikit menebal di luaranya dan bagian dalam mulutnya dilengkapai dengan
gigi-gigi runcing kecil berbentuk kerucut, (Taufik dan Cahyo. 2008)
b.
Nila (Oreochromis
niloticus)
Ikan nila dapat di morfologikan
berdasarkan bentuk fisiologis yaitu memiliki bentuk tubuh bulat pipih,
pungung agak tinggi, badan, sirip ekor dan sirip punggung terdapat garis lurus
memanjang. Ikan ini memiliki lima buah sirip yaitu sirip punggung, sirip data,
sirip perut, sirip anal dan sirip ekor. Dengan adanya sirip tersebut
sangat membantu pergerakan ikan nila semakin cepat di perairan air tawar.
Selain itu, tanda lainnya yang dapat
dilihat dari ikan nila adalah memiliki warna tubuh hitam dan agak keputihan.
Bagian tubuh insang bewarna putih, sedangkan ikan lokal memiliki warna
kekuninang. Sisik ikan nila memiliki ukuran besar, kasar dan tersusun
dengan rapi. Bagian kepala pada ikan ini memiliki ukuran relatif kecil
dibandingkan dengan mulut yang berada pada bagian ujung kepala serta memiliki
mata yang besar.
c.
Lele (Clarias batrachus)
Ikan lele
secara umum memiliki tubuh yang licin dan berlendir, tidak bersisik dan
bersungut atau berkumis (barbel). Secara anatomi dan morfologi lele terbagi
menjadi 3 bagian yaitu kepala yang panjangnya hampir satu per empat panjang
tubuhnya. Kepala lele berbentuk pipih kebawah (depressed). Bagian atas dan bawah kepalanya tertutup rapat oleh
tulang pelat. Tulang pelat ini membentuk ruang rongga di atas insang. Dimana
dalam ruang ini lah terdapat alat tambahan pernapasan lele berupa labirin.
Mulut lele terletak pada ujung moncong (terminal) yang di lengakapi oleh 2
pasang sungut (barbel), selain itu dalam mulut terdapat gigi baik itu gigi
nyata atau pun gigi permukaan yang kasar terletak pada bagian depan mulutnya.
Pada bagian kepala terdapat sepasang mata dengan tepi orbital bebas. Ikan lele
memiliki sepasang lubang hidung (nostril) yang terdapat pada bagian anterior (Mahyudin. 2008)
Ikan lele
mempunyai bentuk tubuh memanjang, agak bulat dan tidak bersisik. Warna tubuhnya
kelabu sampai hitam. Badan lele pada bagian tengahnya mempunyai potongan
membulat. Sementara itu, bagian belakang tubuhnya berbentuk pipih ke samping (compressed). Sirip ekor lele membulat
dan tidak bergabung dengan sirip punggung ,aupun sirip anal. Sirip ekor
berfungsi untuk bergerak maju, (Mahyudin. 2008)
d.
Pari (Himantura uarnak)
Ikan pari ini memiliki betuk tubuh melebar ( depressed ) dan gepeng,
selain itu memiliki satu pasang sirip dada yang menyatu dan melebar dengan
bagian sisi kanan kelapanya. Sehingga, akan tampak atas dan bawah ikan ini
lebih terlihat bulat maupun oval.
Ikan ini memiliki bagian – bagian juga seperti
ikan lainnya salah satu insang, mulut, anus dan juga klasper yang terletak pada
bagian ventrak pada kelapanya. Bagian ekor pada ikan pare ini dilengkapi dengan
duri penyengat yang mengandung racun untuk perlindungan dari ikan ini. Ikan ini
juga memiliki mata yang terletak menyamping, dan berbentuk hampir seperti hewan
darat.
Selain itu, ikan ini juga memiliki ukuran dan
bobot badan dewasa sangat bervariasi tergantung dengan spesies dan varietesnya.
Namun, pada umumnya ikan pari kecil memiliki panjang mencapai 10 cm dan lebar
mencapai 5 cm. Perlu diketahui, bahwa ikan ini dapat mencapai panjang 700 cm ,
lebar 610 cm dan berat mencapai 1-3 ton berdasarkan penemuan dari Bond, 1979.
e.
Hiu (Carcharhinus leucas)
Anatomi ikan Hiu umumnya menyerupai ikan
lainnya, namun ada beberapa organ yang sifatnya spesifik. Ikan Hiu memiliki
usus yang sangat besar dan pendek berisi membran ulir (spiral valve) yang
membuat makanan berputar-putar melaluinya sehingga menunda makanan cukup lama
untuk dicerna dan diserap.Ikan hiu memliki hati yang sangat besar yang membantu
mencernakan makanan dengan menghasilkan empedu dan menyimpan sejumlah zat hara
yang dicerna.
Ikan hiu tidak mempunyai kantung udara sehingga
harus terus berenang agar tidak tenggelam.Beberapa jenis hiu sering di jumpai
berdiam diri di dasar perairan. Menghadapi air laut yang sifatnya hipertonis,
ikan hiu menambah konsentrasi cairan dalam tubuh dengan menaikkan kadar urea
dalam darah.Lobus olfaktori ikan hiu juga berkembang baik menyebabkan ikan ini
sangat peka terhadap bau darah.
3.2.3
Sistem Pencernaan
Berdasarkan sistem
pencernaanya ikan yang digunakan pada praktikum ini merupakan ikan karnivora
dan ikan herbivora, setelah di lakukakan pembedahan dan di ukur panjang usus
dari sampel ikan herbivora memiliki panjang usus yang lebih panjang di
bandingkan dengan usus ikan karnivora. Menurut Djarijah (2010) panjang usus
ikan karnivora lebih pendek dari panjang total badannya sedangkan panjang usus
ikan herbivora biasa melebihi panjang total badannya, terkadang panjang ususnya
biasa mencapai 5 kali panjang badannya.
Kelenjar
pencernaan berfungsi untuk menghasilkan enzim pencernaan yang berguna untuk
membantu proses penghancuran makanan. Enzim pencernaan yang di hasilkan oleh
ikan karnivora berbeda dengan enzim pencernaan yang dihasilkan oleh ikan herbivora.
Kelenjar pencernaan ikan-ikan karnivora menhasilkan enzim-enzim pemecah protein
sedangkan kelenjar pencernaan pada ikan herbivora menghasilkan enzim pemecah
karbohidrat, (Djarijah. 2010)
3.2.4.
Sistem
Pernapasan
Pada pengamatan
system pernapasan pada ikan di temukan jumlah celah insang yang berbeda, pada Carcharhinus leucas di temukan 4 buah
celah insang, pada Himantura uarnak di temukan 5 buah celah. Sedangkan pada Oreochromis
niloticus, Clarias batrachus, Monopterus albus terdapat satu buag celah insang. Setelah dilakukan
pengamatan morfologi celah insang lalu di bedah, untuk mengamati bentuk
insangnya pada pengmatan yang insang ini hanya di lakukan pada Oreochromis niloticus dan Clarias batrachus. Berdasarkan hasil
yang diperoleh, insang pada ikan lele terdapat modifikasi berupa labirin.
Perbedaan insang dari kedua ikan tersebut disebabkan oleh habitat ikan lele
yang berlumpur sedangkan ikan nila memiliki habitat di air yang mengalir. Habitat
yang berlumpur tentu saja memiliki kandungan oksigeterlarut yang lebih sedikit
sehingga ikan perlu beradaptasi dengan lingkungannya untuk bertahan hidup
dengan adanya alat pernapsan tambahan seperti labirin. Menurut () fungsi
labirin adalah untuk mengambil oksigen dari atas permukaan air sehingga dengan
adanya alat pernapasan tambahan ini ikan lele dapat mengambil oksigen secara
langsung di udara.
BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil
kesimpulana bahwa ikan karnivora memiliki sistem pencernaan yang lebih pendek
di bandingkan dengan sistem pencernaan ikan herbivora. Ikan yang memiliki
habitat ekstrim akan memiliki adaptasi pada organ-organ tubuhnya, seperti
halnya pada ikan lele, yang memiliki adaptasi pada sistem pernapasanannya,
yaitu berupa alat pernapasan tambahan labirin.
DAFTAR PUSTAKA
Djarijah, A.S.
2010. Pakan Ikan Alami. Yogyakarta:
Kanisius
Junariyata, F.
2010. Usaha Pembibitan Belut di Lahan
Sempit. Jakarta: Penebar Swadaya
Kordi, K.M.G.H. 2011. Budidaya
Bawal Air Tawar. Jakarta: Akademia
Mahyudin, K. 2008. Paduan Lengkap
Agribisnis Lele. Jakarta: Penebar Swadaya
Suryanto, D., Syamdidi., Diah, I., Ijah, M. 2015. Penanganan dan
Pengolahan Baby Fish Nila. Jakarta: Penebar Swadaya
Suyanto, R. 2008. Bididaya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya
Taufik, A., dan Cahyo, S. 2008. Usaha Pembesaran Belut. Jakarta: Penebar
Swadaya
LAMPIRAN
![]() |
![]() |
||||||||||||||
|
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||||
|
|
||||||||||||||
![]() |
|||||||||||||||
|
|||||||||||||||





Komentar
Posting Komentar