Trematoda Hati (Fasciola hepatica)

1.            Klasifikasi dan morfologi cacing hati (Fasciola hepatica)
Berdasarkan itis.gov Fasciola hepatica di klasifikasikan ke dalam kingdom Animalia, filum Plathyhelminthes, kelas Trematoda, sub kelas Digenea, ordo Echinostomida, famili Fasciolodae, genus Fasciola Linnaeus 1757. Cacing dewasa Fasciola hepatica memiliki bentuk tubuh pipih seperti daun tanpa rongga tubuh. Fasciola hepatica memiliki ukuran tubuh berkisar antara 35 x 10 mm, mempunyai pundak lebar dan ujung posterior yang lancip (Baker, 2007 dalam Anggriana, 2014), batil isap mulut dari Fasciola hepatica letaknya berdekatan dengan kepala, divertikulum usus alat kelaimin jantan (testis) yang bercabang dan berlobus. Sedangkan alat kelamin betina mempunyai kelenjar vitellaria yang memenuhi sisi lateral tubuh. Memiliki sebuah pharing dan oesphagus yang pendek, uterus pendek dan bercabang-cabang (Soulsby 1986). Telur Fasciola hepatica berbentuk oval, berwarna kuning, berukuran 150 x 90 μ serta memiliki operkulum pada salah satu kutubnya. Operkulum merupakan daun pintu telur yang terbuka saat telur akan menetas (Baker, 2007 dalam Anggriana, 2014).
2.    Siklus hidup
Siklus hidup Fasciola hepatica umumnya memiliki pola yang sama, dengan variasi pada ukuran telur, jenis siput sebagai hospes perantaranya dan panjang waktu yang diperlukan untuk berkembang di dalam hospes tersebut, maupun pertumbuhannya dalam hospes definitif (Subronto, 2007 dalam Anggriana, 2014). Secara umum, siklus hidup Fasciola hepatica seperti ditunjukkan pada gambar berikut :


 






Di dalam tubuh hospes yaitu ternak, ikan, dan manusia, cacing dewasa hidup di dalam hati dan bertelur di usus, kemudian telur keluar bersama dengan feses. Telur menetas menjadi larva dengan cilia (rambut getar) di seluruh permukaan tubuhnya yang disebut mirasidium. Larva mirasidium kemudian berenang mencari siput Lymnea. Mirasidium akan mati bila tidak masuk ke dalam siput air tawar (Lymnea rubiginosa). Setelah berada dalam tubuh siput selama 2 minggu, mirasidium akan berubah menjadi sporosis. Larva tersebut mempunyai kemampuan reproduksi secara aseksual dengan cara paedogenesis di dalam tubuh siput, sehingga terbentuk larva yang banyak. Selanjutnya sporosis melakukan paedogenesis menjadi beberapa redia, kemudian redia melakukan paedogenesis menjadi serkaria. Larva serkaria kemudian berekor menjadi metaserkaria, dan segera keluar dari siput dan berenang mencari tanaman yang ada di pinggir perairan misalnya rumput, tanaman padi atau tumbuhan air lainnya. Setelah menempel, metaserkaria akan membungkus diri dan menjadi kista yang dapat bertahan lama pada rumput, tanaman padi, atau tumbuhan air. Apabila tumbuhan tersebut termakan oleh hewan ruminansia maka kista tersebut dapat menembus dinding usus, kemudian masuk ke dalam hati, lalu ke saluran empedu dan menjadi dewasa selama beberapa bulan sampai bertelur dan siklus ini terulang kembali (Ditjennak, 2012 dalam Anggriana, 2014).

3.    Gejala Klinik
Sapi yang terserang  Fasciola hepatica akan tampak pucat, lesu, matanya membengkak, tubuhnya kurus, dan bulu kasar serta kusam atau berdiri. Cacing hati (Fasciola hepatica) yang masih muda merusak sel-sel parenkim hati dan cacing dewasa hidup sebagai parasit dalam pembuluh-pembuluh hati.  Sapi yang terserang cacing hati (Fasciola hepatica) mengalami gangguan fungsi hati, sehingga timbul peradangan hati dan empedu, obstipasi, dan pertumbuhannya terganggu (Guntoro, 2002)
4.    Diagnosa
Diagnosa fasciolosis dapat dilakukan dengan 2 cara, yakni diagnosa klinis dan diagnosa laboratorium. Diagnosa klinis berdasarkan gejala klinis sulit dilakukan, maka sebagai penunjang diagnosa dapat digunakan pemeriksaan ultrasonografi (USG), sedangkan diagnosa laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan feses, biopsi hati, uji serologi untuk deteksi antibodi dan antigen serta western blotting (Ditjennak, 2012 dalam Anggriana, 2014).
Penentuan diagnosa fasciolosis seekor hewan atau sekelompok hewan dapat dibuktikan, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan feses, yaitu menemukan telur Fasciola sp. dalam feses dengan menggunakan metode sedimentasi. Pada hewan yang berkelompok, diagnosa juga perlu diperkuat dengan kerusakan hati salah satu hewan yang mati dengan melalui pemeriksaan post-mortem. Kendala yang ditemukan pada pemeriksaan feses untuk mendeteksi telur cacing adalah durasi infeksi Fasciola gigantica karena telur baru dapat ditemukan 15 minggu setelah hewan terinfeksi, sedangkan untuk infeksi Fasciola hepatica, telur baru dapat ditemukan 10 minggu setelah hewan terinfeksi. Telur yang keluar secara intermitten bergantung pada pengosongan kantung empedu (Subronto, 2007; Ditjennak, 2012 dalam Anggriana, 2014).




DAFTAR REFERENSI
Anggriana, A. 2014. Prevalensi Infeksi Cacing Hati (Fasciola Sp.) pada Sapi Bali di Kecamatan Libureng Kabupaten Bone. Skripsi. Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar
Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta; Kanisius (Hal 64-65)
Soulsby, E.J.L. 1986.
https://www.google.co.id/?gws_rd=cr&dcr=0&ei=q5KuWfPPEISq0QTcubXgAQ

Komentar

Postingan Populer